Ibu Tien Soeharto Diangkat Jadi Pahlawan Nasional Indonesia, Berikut Perannya
Ibu Tien Soeharto: Pahlawan Nasional Indonesia dengan peran besar dalam perjuangan dan pembangunan-Sumber foto: Koranradarkaur.id-
KORANRADARKAUR.ID – Siti Hartinah atau lebih dikenal sebagai Ibu Tien Soeharto tercatat sebagai salah satu tokoh perempuan yang berperan aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia pada masa Perang Revolusi (1945–1949).
Ia terlibat dalam berbagai organisasi, diantaranya Palang Merah Indonesia, Barisan Pemuda Putri, dan Laskar Putri Indonesia. Keterlibatannya memberi dorongan besar bagi kaum wanita untuk ikut serta dalam perjuangan.
Lahir dari keluarga bangsawan, Siti Hartinah adalah putri KPH Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo, masih keturunan Mangkunegara III. Pada 26 Desember 1947, ia menikah dengan Soeharto, pemuda asal Kemusuk yang kelak menjadi Presiden kedua Republik Indonesia.
BACA JUGA:Masjid At-Tin Berdiri Megah, Pengormatan Pada Ibu Tien, Selalu Ramai Musafir
BACA JUGA:Tahukah Anda? Ternyata Ini Sosok yang Menggagas Larangan PNS Berpoligami, Ibu Tien Soeharto
Dari pernikahan itu lahirlah anak pertama mereka, Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut, di Yogyakarta. Peristiwa kelahiran Tutut digambarkan dalam film Janur Kuning yang juga menampilkan peran Soeharto dalam Serangan Umum 1 Maret 1949.
Setelah menikah, Ibu Tien sempat lebih banyak mengabdikan diri untuk keluarga. Namun, ketika Soeharto menjadi Presiden, ia kembali aktif dalam kegiatan sosial, khususnya pemberdayaan perempuan. Sebagai Ibu Negara, ia dikenal sebagai penggagas berbagai program, termasuk pendirian Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Taman Buah Mekarsari, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, serta RSAB Harapan Kita.
Perannya yang besar membuat pemerintah menganugerahkan sejumlah penghargaan kepadanya. Pada 1987, ia menerima Bintang Gerilya dari Presiden melalui Jenderal TNI L.B. Moerdani, atas jasanya dalam perjuangan fisik melawan penjajah. Sembilan tahun kemudian, tepatnya 30 Juli 1996, pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
BACA JUGA:Soeharto Belum Ditetapkan Pahlawan Nasional, Ini Pesannya kepada Yusril Jelang Wafat
Selain dikenal karena kiprahnya di bidang sosial, Ibu Tien juga tercatat menentang praktik poligami. Sikapnya berkontribusi terhadap lahirnya Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 yang membatasi poligami bagi Pegawai Negeri Sipil.
Ibu Tien wafat pada 28 April 1996 akibat serangan jantung. Kepergiannya menyisakan duka mendalam bagi bangsa. Meski sempat muncul spekulasi tentang penyebab kematiannya, jasa-jasanya dalam perjuangan dan pembangunan tetap dikenang. Hingga kini, warisan karyanya masih dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia.
Perjuangan Ibu Tien kemudian mulai dikurangi ketika ia menikah dengan pemuda Kemusuk, Soeharto. Pernikahan itu membuat Ibu Tien melanggengkan baktinya kepada suami. Ia memilih untuk menjadi ibu rumah tangga dan membesarkan anak-anaknya.
Keinginan Ibu Tien memberdayakan kaum wanita kembali masif ketika suaminya, Soeharto diangkat sebagai orang nomor satu Indonesia yang baru. Sebagai Ibu Negera, Ibu Tien lalu dibebaskan oleh Presiden Indonesia kedua untuk melanggengkan kegiatan yang disukai.