Baca Koran radarkaur Online - Radar Kaur

Target Jadi Desa Maju dan Berkembang 2026 Melalui Pengelola Bubuk Kopi

Kopi di Desa Suka Jaya Kecamatan Nasal sedang dijemur, Pemerintahan Desa (Pemdes) target jadi desa maju dan berkelanjutan 2026 mendatang, Kamis 10 Juli 2025.-Sumber Foto: Rega/RKa-

NASAL — Pemerintahan Desa Suka Jaya Kecamatan Nasal menargetkan pada tahun 2026 menjadi desa maju dan berkelanjutan. Melalui program pembangunan yang difokuskan pada peningkatan ekonomi masyarakat. Salah satu program andalan yang tengah diprioritaskan adalah pengelolaan bubuk kopi.

Kades Suka Jaya, Mukhlisin mengungkapkan, bubuk kopi merupakan salah satu program unggulan yang sedang mereka siapkan. Dia menyebutkan,  potensi kopi lokal sangat besar dan memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Karena itu, program ini akan dimaksimalkan sebagai langkah konkret untuk meningkatkan kesejahteraan warga.

“Bubuk kopi menjadi salah satu program prioritas yang kami siapkan. Mengingat potensi dan peluang yang besar untuk dikembangkan, kami yakin melalui program ini taraf hidup masyarakat akan meningkat,” ujar Mukhlisin.

BACA JUGA:Warga Suka Jaya Goro Perbaikan Jalan Menuju Sentral Perkebunan

BACA JUGA:Dorong Masyarakat Gemar Membaca Al-Qur’an, Pemdes Suka Jaya Bagikan 60 Al-Qur'an

Menurutnya, salah satu ciri desa maju dan berkelanjutan adalah tidak adanya masyarakat dengan penghasilan rendah atau di bawah Rp 2 juta per bulan. Melalui program ini, dia yakin visi tersebut dapat terwujud.

“Saya mempunyai visi, ke depan tidak ada lagi masyarakat yang memiliki penghasilan rendah di bawah dua juta rupiah per bulan. Melalui program yang kami godok ini, Insya Allah kami mampu mengantarkan desa menjadi maju dan berkelanjutan,” ucapnya.

Mukhlisin menjelaskan, pengelolaan kopi kering menjadi bubuk kopi dapat menjadi sumber peningkatan penghasilan yang signifikan. Sebagai ilustrasi, harga kopi kering saat ini berkisar Rp 50 ribu per kilogram. Namun, jika diolah menjadi bubuk dan dikemas, nilainya bisa melonjak jauh.

“Jika 1 kilogram kopi kering diolah menjadi bubuk, per 100 gramnya bisa dijual dengan harga Rp 20 ribu. Itu artinya jika dijual per kilogram dalam bentuk bubuk, nilainya bisa mencapai Rp 200 ribu. Peluang keuntungannya sangat besar,” jelasnya.

Mukhlisin mengakui, tantangan dalam pengembangan usaha ini tidak sedikit karena persaingan di dunia industri kopi sangat ketat. Namun, dengan tekad dan keyakinannya terhadap masyarakat, dia percaya pengelolaan kopi kering menjadi bubuk kopi mampu bersaing di pasar besar.

“Memang tidak mudah untuk mencapai level tersebut, karena banyak kompetitor yang sudah lebih dulu terjun ke dunia kopi. Namun melalui program ini, saya meyakini kami mampu mengantarkan kesejahteraan untuk masyarakat,” ungkapnya.*

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan