Teuku Umar dan Cut Nyak Dien, Pasangan Pahlawan Nasional dari Aceh
Teuku Umar dan Cut Nyak Dien merupakan pasangan suami dan istri ditetapkan pahlawan Nasional. Sumber foto: koranradarkaur.id--
KORANRADARKAUR.ID –Teuku Umar tercatat sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia yang berjuang melawan kolonial Belanda dalam Perang Aceh.
Sosoknya dikenal luas bukan hanya karena keberanian di medan perang, tetapi juga karena perannya bersama sang istri, Cut Nyak Dien.
Cut Nyak Dien sendiri telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional berkat kiprah besar dan pengorbanannya dalam melawan penjajah. Keduanya bahkan dijuluki Een National Heldenpaar atau pasangan pahlawan nasional, sebuah gelar kehormatan yang menggambarkan kesetiaan dan perjuangan mereka demi kemerdekaan bangsa.
1. Teuku Umar
Teuku Umar adalah pahlawan asal Aceh yang terkenal karena kiprahnya dalam melawan penjajahan Belanda pada periode 1875 hingga 1899.c Dalam riwayat hidupnya disebutkan bahwa ia berperan besar dalam perlawanan rakyat Aceh, memperlihatkan keberanian luar biasa serta strategi jitu di berbagai pertempuran.
Atas jasa-jasa besarnya bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia, pemerintah memberikan penghormatan tinggi kepadanya.
Melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 087/TK Tahun 1973, pada tanggal 6 November 1973 Teuku Umar resmi ditetapkan sebagai pahlawan nasional*.
Penetapan tersebut merupakan wujud penghargaan negara atas pengabdian dan pengorbanannya dalam membela tanah air dari penjajahan.
BACA JUGA:Ibu Tien Soeharto, Dari Gelar Pahlawan Nasional hingga Deretan Kontroversi
Teuku Umar dilahirkan di Meulaboh, Aceh Barat, pada tahun 1854. Ayahnya bernama Achmad Mahmud, seorang keturunan Uleebalang Meulaboh. Silsilah keluarganya juga terhubung dengan Minangkabau melalui nenek moyangnya, Datuk Machudum Sati.
Pada tahun 1873, ketika usianya menginjak 19 tahun, pecah Perang Aceh melawan Belanda. Meski saat itu ia masih sangat muda dan belum langsung terjun ke medan perang, Umar sudah dipercaya sebagai Keuchik di wilayah Daya Meulaboh.
Seiring berjalannya waktu, perang kian memanas dan banyak korban jatuh di kedua belah pihak. Salah seorang pejuang gigih yang gugur pada tahun 1878 adalah Ibrahim Lamnga, suami dari Cut Nyak Dhien.
Sebulan setelah Ibrahim Lamnga dimakamkan, Teuku Umar mendatangi Cut Nyak Dhien di Montasik, ketika ia masih larut dalam kesedihan. Hubungan keduanya memang dekat karena Umar dan Cut Nyak Dhien adalah saudara sepupu.
Dalam kunjungan tersebut, Umar sekaligus membicarakan kondisi perjuangan Aceh yang semakin terdesak.