Bendera Merah Putih Dijahit Fatmawati, Kini Diuji Bendera One Piece
Bendera Merah Putih dijahit oleh Fatmawati disampaikan dengan bendera One Piece.-Sumber foto: Koranradarkaur.id-
KORANRADARKAUR.ID - Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia, simbol-simbol nasional kembali menjadi pusat perhatian masyarakat.
Bendera Merah Putih sebagai simbol kedaulatan dan perjuangan bangsa yang biasanya berkibar gagah di halaman rumah, gedung pemerintahan, sekolah, hingga puncak gunung dan dasar laut.
Namun tahun ini, terjadi fenomena menarik sekaligus mengundang perdebatan dengan munculnya bendera bajak laut “One Piece” yang turut dikibarkan di berbagai sudut masyarakat, terutama oleh generasi muda.
BACA JUGA:Gedung Joang 45 Saksi Perjuangan Pemuda Menuju Kemerdekaan Indonesia, Yuk Intip Kisahnya!
BACA JUGA:Martha Christina Tiahahu, Srikandi Muda yang Mati Kelaparan dalam Perjuangan, Mutiara dari Nusa Laut
Fenomena ini menjadi kontras yang tajam ketika dihadapkan dengan sejarah lahirnya Bendera Merah Putih yang dijahit dengan tangan oleh Ibu Fatmawati, perempuan asal Bengkulu.
Dimana ia menjahit bendera itu secara diam-diam dengan kain yang sederhana, namun penuh semangat perjuangan. Kini harus disandingkan dengan Bendera anime dari jepang.
Untuk diketahui, Fatmawati dan Soekarno menikah pada 1 Juni 1943, dari pernikahan mereka, keduanya dikaruniai 5 orang anak. Yaitu Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.
BACA JUGA:Ganyang Malaysia: Babak Bersejarah Dalam Perjuangan Bangsa Indonesia, Cek Asal Muasalnya!
Selang setahun pernikahan tersebut, Jepang menjanjikan akan memerdekakan Indonesia. Fatmawati pun berfikir untuk menjahit bendera Merah-Putih saat hari kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Gagasan Fatmawati ini mendahului ide agung Soekarno dan tokoh kemerdekaan lainnya. Kala itu, Fatmawati tidak sengaja mendengar teriakan bahwa bendera Indonesia belum ada saat Soekarno bersama tokoh lainnya sedang berkumpul menyiapkan peralatan untuk pembacaan naskah teks proklamasi.
Tanpa pikir panjang, segera Fatmawati mencoba untuk menjahit bendera Sang Saka Merah Putih. Walau hanya 'Merah dan Putih' tentu saja bukan perkara mudah bagi Fatmawati yang saat itu sedang hamil besar.
Dengan menggunakan alat jahit tangan, bendera Merah Putih berukuran 2x3 meter itu dijahit oleh Fatmawati di ruang makan dengan harapan kelak dapat digunakan untuk keperluan bangsanya.