Akses Internet di Perbukitan Nasal Masih Terbatas, Warga Harus Beli Jaringan Pribadi
Salah satu lokasi warga Desa Kulik Sialang dan Muara Dua Kecamatan Nasal istirahat untuk mencari signal, Selasa 24 Juni 2025. Sumber foto: REGA/RKa--
BINTUHAN – Di tengah gencarnya transformasi digital yang dicanangkan pemerintah pusat, masyarakat di wilayah perbukitan Kecamatan Nasal Kabupaten Kaur, justru masih menghadapi keterbatasan akses internet yang cukup serius.
Padahal, konektivitas digital kini menjadi kebutuhan mendasar, terutama untuk menunjang sektor edukasi, komunikasi, hingga pengembangan ekonomi kreatif di tingkat desa.
Salah satu wilayah yang terdampak adalah Desa Persiapan Kulik Sialang, di mana hingga kini sinyal telepon seluler masih kerap hilang dan kualitas jaringan internet sangat lemah.
Kondisi ini menyebabkan berbagai aktivitas berbasis digital, seperti pembelajaran daring, komunikasi online, maupun pengelolaan usaha kecil menengah, menjadi sulit dijalankan.
Yang lebih disayangkan, program WiFi Bakti Aksi yang diluncurkan pemerintah untuk menyediakan internet gratis di desa-desa terpencil, kini banyak yang tidak lagi berfungsi. Gangguan teknis dan kerusakan perangkat ditemukan di sejumlah titik, namun belum ada tindakan perbaikan dari pihak terkait.
Di Desa Trijaya, jaringan WiFi bantuan pemerintah dilaporkan telah mati lebih dari lima bulan, tanpa penanganan sama sekali. Hal serupa terjadi di Desa Muara Dua, serta beberapa desa lain di wilayah Nasal yang mengalami kerusakan jaringan serupa.
Sudarman (34) warga Desa Persiapan Kulik Sialang menyampaikan, akses internet di desanya masih sangat terbatas. Untuk terhubung ke platform digital, warga harus menggunakan jaringan WiFi pribadi dan membeli voucher khusus internet yang tersambung ke WiFi agar bisa mengakses internet.
“Di era digital seperti sekarang ini, seharusnya pemerintah tidak hanya menggembar-gemborkan program digitalisasi. Tetapi juga memastikan infrastrukturnya benar-benar bisa dinikmati masyarakat desa,” ujarnya.
Kondisi ini menjadi ironi di tengah upaya nasional mendorong ekonomi digital dan pemerataan teknologi. Ketimpangan akses informasi dan konektivitas berpotensi memperlebar kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan, serta menghambat pertumbuhan sektor ekonomi berbasis teknologi di desa.
Masyarakat berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret. Selain memperbaiki jaringan WiFi yang rusak, pemerintah juga diharapkan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas program digitalisasi desa, termasuk penyediaan infrastruktur jaringan yang andal di wilayah-wilayah terpencil.
"Dengan konektivitas yang baik dan merata, maka kami dapat berpartisipasi aktif dalam ekonomi digital, mengakses layanan publik, serta meningkatkan kualitas pendidikan," ujarnya.