Baca Koran radarkaur Online - Radar Kaur

Advertisement Google

Harga Kelapa di Nasal Stagnan, Begini Penjelasan “Cingkau”

Harga kelapa masih stagnan dan belum ada tanda-tanda perubahan, Minggu 31 Agustus 2025. Sumber foto: REGA/RKa--

NASAL – Harga kelapa di tingkat petani Kabupaten Kaur hingga akhir Agustus 2025 masih stagnan. Sejak mengalami penurunan pada Juli lalu, harga kelapa belum menunjukkan tanda-tanda  peningkatan.

Berdasarkan pantauan di lapangan, saat ini harga satu butir kelapa di tingkat petani hanya sebesar Rp 5 ribu sampai Rp 6 ribu.

Padahal sebelumnya, harga kelapa sempat menyentuh angka Rp 10.000 per buah. Sementara itu, jika pengepul mengambil buah langsung dari pohon milik petani, harga yang diberikan hanya sekitar Rp 3 ribu sampai Rp 3,500 per buah. Angka ini juga jauh lebih rendah dibanding harga sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp 5 ribu.

Aan Ariyanto (40),  pengepul kelapa warga Desa Air Batang Kecamatan Nasal membenarkan, harga kelapa di wilayah Kaur memang masih belum mengalami perubahan. Menurutnya, harga jual beli kelapa sudah turun sejak Juli 2025 lalu dan bertahan hingga sekarang.

BACA JUGA:Harga Kelapa Tua Anjlok Rp 6000/Buah, Cek di Sini Biangkerok Rugikan Petani!

“Harga kelapa di sini masih stagnan sejak turun bulan Juli lalu. Sampai sekarang belum ada tanda-tanda naik lagi. Kalau dari petani, satu butir dihargai Rp 6 ribu, sedangkan kalau kami ambil langsung di pohon hanya Rp 3 ribu,” ungkap Aan, Minggu 31 Agustus 2025.

Aan sendiri mengaku, tidak mengetahui secara pasti penyebab anjloknya harga kelapa di Kaur. Dia menduga hal ini dipengaruhi oleh mekanisme pasar, termasuk permintaan dari luar daerah dan biaya distribusi.

"Kalau penyebab pastinya saya juga kurang tahu. Tapi biasanya memang tergantung dari permintaan dan harga jual ke luar daerah,” tambahnya.

Kondisi stagnasi harga kelapa ini membuat banyak petani kesulitan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Sebagian dari mereka bahkan menunda panen karena merasa harga yang ditawarkan terlalu rendah. Namun di sisi lain, jika terlalu lama dibiarkan di pohon, kelapa akan jatuh dan rusak sehingga justru menambah kerugian.

"Kami sebagai cingkau ini cuma berharap, harga kelapa juga ikut baik. Kepada pemerintah terutamanya kami juga minta ada perhatiannya untuk membantu mencari solusi, baik melalui stabilisasi harga maupun membuka akses pasar yang lebih luas. Dengan begitu, hasil perkebunan kelapa yang menjadi salah satu komoditas unggulan Kaur dapat kembali memberikan keuntungan bagi masyarakat," ujarnya. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan