Malam Renungan Suci dan Ulang Janji HUT Pramuka ke-64, Momentum Mengenang Peran Sultan Hamengku Buwono IX
KORANRADARKAUR.ID - Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka 07 Bengkulu malam ini akan menggelar renungan suci, ulang janji dan sarasehan dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Praja Muda Karana (Pramuka) ke-64.
Kegiatan dilaksanakan di Balai Raya Semarak Bengkulu, Rabu 13 Agustus 2025. Namun, dibalik malam renungan ada sosok Pahlawan Nasional yang diberi gelar Bapak Pramuka Indonesia yaitu, Sri Sultan Hamengkubuwono IX .
Raja Kasultanan Yogyakarta ke-9 ini merupakan pencetus nama Pramuka di Indonesia.
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka pertama ini resmi menjabat mulai 14 Agustus 1961. Tanggal 14 Agustus juga kelak diperingati sebagai Hari Pramuka.
BACA JUGA:Bangga, Siswa MIN 1 Kaur Borong Piala di Ajang HUT RI KKGO
Organisasi kepramukaan dari Baden Powell semula dibawa Belanda ke Nusantara pada masa penjajahan.
Bentuknya yakni organisasi kepanduan, bernama Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda (Nederland Indische Padvinders Vereeniging/NIPV).
Istilah Padvinders merujuk pada istilah untuk organisasi Pramuka yang ada di Belanda, seperti dikutip dari Sejarah Pramuka Indonesia dan Cikal Bakal Jambore Nasional: Seri Ensiklopedi Sejarah Pramuka oleh R Toto Sugiarto dkk.
Para pemimpin gerakan kemerdekaan melihat gerakan kepanduan bisa dimanfaatkan untuk membentuk karakter manusia Indonesia.
Dari situ, muncul organisasi kepanduan yang mereka prakarsai. Beberapa di antaranya yakni Sarekat Islam Afdeling Padvindery dan Jong Java Padvindery (JJP).
BACA JUGA:Persiapan Sudah Matang, Kaur Siap Gelar Upacara HUT RI ke-80
Sri Sultan Hamengkubuwono IX pun aktif di kegiatan kepramukaan prakemerdekaan Indonesia. Kelahiran Yogyakarta, 12 April 1912 yang terlahir dengan nama Gusti Raden Mas Dorodjatun ini tercatat sebagai anggota welp atau siaga pada 1921.
Pandu siaga adalah jenjang kepramukaan paling dasar saat itu yang diperuntukkan bagi anak usia 6-11 tahun, seperti dikutip dari Sejarah Gerakan Pramuka oleh Ferizal.
Menuju dewasa, Sri Sultan Hamengkubuwono IX aktif di kepanduan. Jelang tahun 1960-an, ia menjadi pemimpin kepanduan yang disebut Pandu Agung.