Baca Koran radarkaur Online - Radar Kaur

Pernikahan Menurun, Jumlah Penduduk Kabupaten Kaur Mengalami Pertumbuhan

Fungsional Statistisi Ahli Muda, Ropika Yuta, S.ST menyebutkan jumlah penduduk Kabupaten Kaur mengalami pertumbuhan. Sumber foto: koranradarkaur.id--

BINTUHAN —Angka perkawinan di Kabupaten Kaur justru mengalami penurunan pada tahun 2024.

Angka perkawinan di kalangan usia produktif 15 hingga 49 tahun mengalami penurunan dari 136,47 persen pada tahun 2023 menjadi 136,3 persen pada tahun 2024.

Tapi walau demikian, jumlah penduduk Kabupaten Kaur mengalami pertumbuhan pada tahun 2024 dibandingkan tahun sebelumnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kaur, jumlah penduduk tercatat sebanyak 132.659 jiwa pada 2024, naik dari 131.063 jiwa pada 2023.

BACA JUGA:UPDATE! Hasil Autopsi, Bayi Diduga Sengaja Dibunuh dengan Cara Dibekap Sebelum Dibuang di Pasar Bawah

“Penurunan angka perkawinan ini menjadi salah satu indikator adanya perubahan pola demografi di Kabupaten Kaur yang perlu diantisipasi oleh pemerintah daerah,” ujar Kepala BPS Kabupaten Kaur, Dr. Antoni Pestaria, SE, M.Si melalui Fungsional Statistisi Ahli Muda, Ropika Yuta, S.ST.

Ia merinci, pada tahun 2023, angka perkawinan laki-laki tercatat sebesar 59,26 persen, sementara perempuan mencapai 77,21 persen.

Namun pada tahun 2024, angka perkawinan laki-laki naik tipis menjadi 60,35 persen, sedangkan angka perkawinan perempuan justru turun menjadi 75,95 persen.

Selain itu, angka perkawinan pada usia muda atau di bawah usia produktif juga mengalami penurunan.

BACA JUGA:Dua Peserta Masih Diverifikasi, Penyerahan SK CPNS 2024 Pemprov Bengkulu Tunggu Arahan Ini

Ropika menjelaskan, untuk kategori usia kawin 10 tahun ke atas, pada tahun 2023 tercatat sebesar 127,73 persen, sementara pada tahun 2024 turun menjadi 127,69 persen.

Rinciannya, angka perkawinan pada laki-laki usia 10 tahun ke atas pada tahun 2023 sebesar 61,88 persen, sementara perempuan 65,83 persen.

Sedangkan pada tahun 2024, angka perkawinan laki-laki naik tipis menjadi 61,98 persen, sementara perempuan justru turun menjadi 65,71 persen.

Menurut Ropika, penurunan angka perkawinan ini dapat disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari perubahan pola pikir masyarakat terhadap usia perkawinan, meningkatnya kesadaran akan pentingnya pendidikan, hingga faktor ekonomi yang mempengaruhi keputusan untuk menikah.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan