Tujuh Benda Sakral Budaya Jawa, Simbol Harmoni dan Kekuatan Spiritual
Ilustrasi tujuh benda sakral budaya jawa, simbol harmoni dan kekuatan spiritual-Sumber Foto: koranradarkaur.id-
KORANRADARKAUR.ID – Budaya Jawa menyimpan kekayaan nilai filosofis dan spiritual yang telah diwariskan turun-temurun selama berabad-abad. Dalam tatanan kehidupan masyarakat Jawa, terdapat sejumlah benda sakral yang tak hanya bernilai sejarah, namun juga dipercaya mengandung kekuatan sakral.
Setidaknya, terdapat tujuh benda yang dianggap sakral dan memiliki nilai spiritual tinggi, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Jawa.
Benda sakral pertama adalah keris, senjata tradisional yang lebih dari sekadar alat pertahanan diri. Keris dipercaya memiliki kekuatan gaib yang mampu melindungi pemiliknya dari bahaya dan energi negatif.
Selain sebagai simbol keberanian dan kehormatan, keris juga sering diwariskan sebagai pusaka keluarga. Pembuatan keris pun tidak sembarangan, melibatkan ritual dan laku spiritual dari para empu atau pembuat keris.
Berikutnya, batu akik bertuah menjadi benda sakral kedua yang sangat dihormati. Banyak masyarakat Jawa meyakini bahwa batu ini memiliki kekuatan metafisik.
Setiap jenis batu akik, terutama yang memiliki corak unik atau ditemukan secara tidak biasa, diyakini membawa tuah tersendiri—baik untuk kesehatan, keselamatan, maupun keberuntungan dalam usaha.
BACA JUGA:Mitos dan Fakta Seputar Warisan Benda Pusaka di Indonesia yang Dianggap Memiliki Kekuatan Gaib
BACA JUGA:Islam Menyoroti Tradisi Menyimpan Benda Pusaka untuk Tujuan Gaib
Benda ketiga adalah wayang kulit, warisan seni pertunjukan yang sarat makna. Wayang tidak sekadar hiburan, tetapi media penyampaian nilai-nilai moral, filsafat hidup, hingga ajaran keagamaan.
Tokoh-tokoh seperti Arjuna, Semar, dan Hanoman menjadi lambang kebaikan, kesabaran, dan kebijaksanaan. Pertunjukan wayang kulit biasanya digelar dalam upacara-upacara adat yang sakral.
Keempat, terdapat jamasan keraton, yakni upacara pembersihan benda-benda pusaka keraton seperti keris, tombak, dan mahkota. Ritual ini dilaksanakan dengan tata cara tertentu dan biasanya melibatkan abdi dalem atau tokoh spiritual keraton.
Jamasan dilakukan bukan hanya untuk merawat secara fisik, tetapi juga menjaga keseimbangan energi spiritual benda pusaka.
Kelima adalah gunungan, simbol berbentuk gunung yang kerap hadir dalam pertunjukan wayang. Gunungan menggambarkan alam semesta, permulaan, dan akhir dari kehidupan. Letaknya di awal dan akhir pertunjukan melambangkan transisi antara dunia nyata dan dunia spiritual.
Benda keenam adalah tombak pusaka keluarga, yang kerap diwariskan secara turun-temurun. Tombak ini tidak hanya sebagai simbol kekuatan, tetapi juga dipercaya memiliki kemampuan menjaga keharmonisan dalam keluarga serta ketentraman lingkungan.