Baca Koran radarkaur Online - Radar Kaur

Tokoh Jurnalis yang Terlibat Proklamasi, Mulai Penyusunan hingga Pembacaan

B.M. Diah salah satu toko jurnalis yang terlibat saat Proklamasi. Sumber foto: koranradarkaur.id--

4. Frans Mendur 

Frans Soemarto Mendur lahir di Kawangkoan, Sulawesi Utara, 16 April 1913. Frans adalah adik dari Alex Mendur sekaligus anak keempat dari sebelas bersaudara.Saat masih belia, ia memilih untuk meninggalkan kampung halamannya dan pergi merantau ke Surabaya.

Kemudian pergi ke Batavia untuk bertemu kakaknya, Alex. Usai menimba ilmu fotografi dari sang kakak, Frans kemudian bekerja sebagai jurnalis di Java Bode.

Setelah berakhirnya proklamasi, Alex dan Frans merintis berdirinya Indonesia Press Photo Service (IPPHOS) tepatnya pada 2 Oktober 1946. 

Lembaga ini didirikan untuk menyediakan dokumentasi foto bagi kantor berita dalam maupun luar negeri, yang menggambarkan situasi dan perjuangan kemerdekaan di Indonesia.

Para fotografer IPPHOS diberi kredit untuk banyak foto terkenal yang mendokumentasikan perjuangan kemerdekaan dan dipandang sebagai "saksi" penting sejarah.

BACA JUGA:10 Tokoh Proklamasi, Ada Jurnalis Hingga Pedagang, Simak Nama – namanya di Sini!

5. Yusuf Ronodipuro

Moehammad Joesoef Ronodipoera, atau yang lebih dikenal dengan nama Yusuf Ronodipuro, lahir di Salatiga, Jawa Tengah, pada 30 September 1919. Ia dikenal sebagai penyiar dan pendiri Radio Republik Indonesia (RRI).

Berita proklamasi ini tidak langsung tersebar ke seluruh Indonesia. Sekitar pukul 13.00 WIB, sekelompok mahasiswa kedokteran berupaya memproklamasikan kemerdekaan melalui siaran radio, namun upaya tersebut digagalkan oleh pihak Jepang. Pada pukul 17.30 WIB, Syahruddin, jurnalis Kantor Berita Domei, memasuki kantor Hoso Kyoku dan memberikan naskah Proklamasi kepada Yusuf.

Yusuf bersama rekannya Bachtiar Loebis dan teknisi radio Joe Seragih, bekerja cepat untuk menyiarkan proklamasi. Mereka menghadapi kendala teknis karena siaran radio dijaga ketat oleh kempetai Jepang.

Namun, dengan memanfaatkan studio siaran luar negeri yang tidak dijaga, mereka berhasil menyiarkan teks Proklamasi dalam bahasa Indonesia dan Inggris pada pukul 19.00 WIB.

Usai kabar kemerdekaan tersiar, Yusuf dan Bachtiar Loebis ditangkap serta dianiaya oleh kempetai. Keduanya hampir kehilangan nyawa, namun berhasil diselamatkan oleh seorang pegawai senior Nippon.

Dalam keadaan terluka, Yusuf bersembunyi dan mendapatkan perawatan medis di rumah sahabatnya, Basuki Abdullah dan rumah sakit di Salemba. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan