Baca Koran radarkaur Online - Radar Kaur

Advertisement Google

Malam Renungan Suci dan Ulang Janji HUT Pramuka ke-64, Momentum Mengenang Peran Sultan Hamengku Buwono IX

Di ciri nasional, organisasi pramuka di Indonesia wajib menyesuaikan pendidikannya dengan keadaan, kebutuhan, dan kepentingan masyarakat, bangsa, serta negara.

Di internasional, pramuka wajib membina dan mengembangkan rasa persaudaraan dan persahabatan sebagai sesama pramuka dan sesama manusia tanpa membedakan kepercayaan atau agama, golongan, tingkat, suku, dan bangsa.

Adapun ciri universal pramuka yakni kepramukaannya dapat digunakan di mana saja untuk mendidik anak-anak dari bangsa apa saja.

Pelaksanaan pendidikannya wajib menggunakan prinsip dasar dan metode kepramukaan.

Gerakan pramuka didasarkan pada prinsip iman dan takwa pada Tuhan Yang Maha Esa; peduli pada bangsa, Tanah Air, sesama makhluk hidup, dan alam seisinya; peduli pada dirinya sendiri; dan taat pada Kode Kehormatan Pramuka.

BACA JUGA:Meriahkan HUT RI di Kaur, 56 Tim OPD Bersaing di Ajang Lomba Bola Voli

Jasa Sri Sultan Hamengkubuwono IX di bidang kepramukaan Indonesia membuatnya diganjar Bronze World Award 1973 dari World Organization of the Scout Movement (WOSM).

Penghargaan ini merupakan yang tertinggi dan satu-satunya dari WOSM pada sosok berjasa dalam pengembangan kepramukaan di dunia.

Dalam kerjanya, Sri Sultan Hamengkubuwono IX di mata dunia dinilai berjasa besar dalam membangun Gerakan Pramuka, terutama di transisi dari kepanduan menjadi kepramukaan.

Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka 1988 pun mengukuhkan Sri Sultan Hamengkubuwono IX menjadi Bapak Pramuka Indonesia, sebagaimana tertuang di Surat Keputusan No 10/MUNAS/88 tentang Bapak Pramuka.

Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) IX adalah salah satu Raja Jogja yang juga menjadi Pahlawan Nasional.

Atas jasa-jasanya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, Sri Sultan HB IX dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 30 Juli 1990, berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia Nomor 053/TK/Tahun 1990.

Sri Sultan HB IX tercatat berperan aktif dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada masa pemerintahannya, Kesultanan Yogyakarta bergabung dengan Indonesia.

Bahkan, ia tercatat pernah menduduki posisi penting di pemerintah Republik Indonesia. Mulai dari menteri, wakil perdana menteri, hingga wakil presiden.

Sri Sultan Hamengkubuwono IX meninggal di Washington DC, AS, 1 Oktober 1988.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan