Baca Koran radarkaur Online - Radar Kaur

Advertisement Google

Malam Renungan Suci dan Ulang Janji HUT Pramuka ke-64, Momentum Mengenang Peran Sultan Hamengku Buwono IX

Presiden Soekarno aktif berdiskusi dengannya terkait penyatuan organisasi-organisasi kepanduan, pendirian gerakannya, dan pengembangannya.

Sri Sultan Hamengkubuwono IX mengusulkan nama Pramuka. Inspirasinya dari kata poromuko, yang artinya pasukan terdepan dalam perang.

Istilah pramuka ini lalu menjadi singkatan untuk praja muda karana, yang artinya jiwa muda yang suka berkarya.

BACA JUGA:Ada Pangan Murah Sambut HUT RI ke-80 Tahun 2025, Warga Serbu Markas Polres Bengkulu Selatan

Perannya dalam Gerakan Pramuka Indonesia sangat besar dan penting. Dirinya terlibat aktif dalam penyatuan organisasi kepanduan, Gerakan Pramuka, dan seluk-beluk pengembangannya di Indonesia.

Hal tersebut ditandai dengan Sri Sultan HB IX menjadi salah satu anggota Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka yang terbentuk pada 9 Maret 1961.

Bersamaan dengan ditetapkannya Hari Pramuka pada 14 Agustus 1961, Sri Sultan HB IX dilantik menjadi Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas).

Selama empat periode, jabatan Ketua Kwarnas diduduki olehnya, yaitu periode 1961-1963, 1963-1967, 1967-1970, dan 1970-1974 atau selama tiga belas tahun.

Di bawah kepemimpinannya, Gerakan Pramuka Indonesia melahirkan berbagai pengembangan baru hingga mendapat penghargaan di tingkat nasional dan internasional Salah satunya, Sri Sultan Hamengku Buwono IX berhasil menggagaskan peralihan  nilai ‘kepanduan’ menjadi ‘kepramukaan’ melalui Renewing of Scouting.

Organisasi pramuka nasional resmi di Indonesia kelak terbentuk berdasarkan Tap MPRS No II/MPRS/1960 pada 3 Desember 1960.

Presiden Soekarno membubarkan organisasi-organisasi kepanduan di Indonesia dan meleburnya jadi organisasi pramuka.

Soekarno pun melantik Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Ka Kwarnas Pertama pada 14 Agustus 1961.

BACA JUGA:Semarakkan HUT RI, SMPN 19 Kaur Gelar Lomba Tarik Tambang

Sejak terbentuk, kepramukaan di Indonesia pun diarahkan menjadi proses pendidikan yang menyenangkan bagi anak dan pemuda untuk belajar di luar kelas dan di alam.

Berdasarkan resolusi Konferensi Kepramukaan Sedunia 1924 di Denmark, kepramukaan pun dibangun dengan ciri nasional, internasional, dan universal.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan