Daftar Ponsel yang Paling Mudah Diretas, Handphone Anda Termasuk? Cek di Sini
Oppo masuk daftar ponsel yang mudah diretas. Sumber foto: koranradarkaur.id --
Banyak pengguna yang tergiur menggunakan aplikasi modifikasi atau tidak resmi yang ternyata berisi malware.
Kebiasaan tersebut meningkatkan risiko peretasan, apalagi jika pengguna tidak mengaktifkan sistem keamanan tambahan seperti enkripsi data atau verifikasi dua langkah.
Posisi kelima ditempati Huawei. Walaupun dikenal dengan sistem keamanan yang kuat, beberapa perangkat Huawei dilaporkan masih memiliki celah pada lapisan sistem tertentu.
Peretasan biasanya terjadi melalui aplikasi pihak ketiga atau pesan berisi tautan berbahaya.
Karena beberapa model Huawei tidak memiliki dukungan langsung dari Google, pengguna juga cenderung mencari aplikasi dari sumber luar, yang justru memperbesar peluang serangan siber.
Oppo menempati posisi keenam dalam daftar ponsel yang paling mudah diretas. Merek ini populer di kalangan pengguna muda, terutama di Indonesia.
Banyaknya pengguna yang kurang memperhatikan keamanan, seperti menggunakan kata sandi sederhana atau menyetujui izin aplikasi tanpa membaca detailnya, menjadi faktor utama kerentanan.
Serangan yang sering terjadi pada ponsel Oppo meliputi pembajakan akun media sosial, pencurian data galeri, dan penyadapan aplikasi pesan instan.
Selain itu, beberapa pengguna Oppo yang menggunakan versi sistem operasi lama tanpa pembaruan keamanan juga meningkatkan potensi risiko.
Di posisi terakhir ada Vivo. Meskipun jumlah peretasan terhadap ponsel Vivo lebih sedikit dibanding merek lainnya, bukan berarti perangkat ini sepenuhnya aman.
Serangan umumnya terjadi karena kelalaian pengguna, misalnya membuka tautan mencurigakan atau tidak memasang perlindungan tambahan seperti antivirus.
Fenomena ini membuktikan bahwa kerentanan terhadap peretasan tidak hanya bergantung pada merek atau harga ponsel, tetapi juga pada perilaku penggunanya. Setiap ponsel memiliki potensi disusupi jika pengguna tidak berhati-hati.
Langkah pencegahan sederhana seperti memperbarui sistem operasi secara rutin, tidak mengunduh aplikasi dari sumber tak resmi, serta menggunakan autentikasi dua faktor dapat menekan risiko peretasan secara signifikan.
Laporan efani.com tersebut menjadi pengingat penting bahwa di era digital saat ini, keamanan data pribadi harus menjadi prioritas utama.
Semakin canggih teknologi ponsel, semakin canggih pula metode serangan yang digunakan oleh para peretas.