Baca Koran radarkaur Online - Radar Kaur

Advertisement Google

Kopi Gurita Vakum, Berikut Alasan Pemiliknya!

Kopi Gurita milik warga Desa Trijaya Kecamatan Nasal vakum, Minggu 10 Mei 2026.--

NASAL – Usaha bubuk Kopi Gurita milik Pitoyo (40), warga Desa Trijaya Kecamatan Nasal terpaksa vakum sementara pada tahun 2026. Usaha yang telah dirintis sejak 2017 itu mengalami kendala keterbatasan alat produksi modern serta tingginya persaingan produk kopi dari luar daerah. Selain itu, kurangnya dukungan terhadap pengembangan usaha juga menjadi salah satu faktor yang membuat produksi kopi tersebut dihentikan sementara waktu.

Pitoyo menjelaskan, saat ini dirinya memilih fokus mengembangkan kebun kopi sambil menabung untuk membeli alat penggiling modern. Pengembangan kebun kopi dilakukan agar nantinya pasokan bahan baku dapat terpenuhi ketika usaha kembali berjalan.

“Belum tahu kapan usaha kopi ini akan kembali berjalan. Sekarang saya fokus mengembangkan kebun kopi dan menabung membeli alat penggiling modern untuk produksi nanti,” ujarnya.

BACA JUGA:Lantai Lapuk Jembatan Gantung Muara Dua Bikin Petani Kopi Was-was

BACA JUGA:Camat Nasal Serius Kembangkan Potensi Kopi, Berikut Ini Langkah yang Dilakukan

Menurutnya, keberadaan alat modern sangat penting untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas pengolahan kopi bubuk agar mampu bersaing di pasaran.

Meski saat ini vakum, usaha Kopi Gurita sebelumnya cukup berkembang dan telah memiliki pasar hingga luar daerah. Produk kopi miliknya bahkan pernah dipasarkan sampai ke Purwokerto Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah.

Dalam satu bulan, penjualan kopi ke daerah tersebut mampu mencapai sekitar 100 kilogram dalam bentuk kemasan. Selain ke luar daerah, kopi produksi Pitoyo juga banyak diminati masyarakat lokal, termasuk kalangan anggota kepolisian dan pelaku usaha makanan.

Kopi Gurita dijual dengan harga sekitar Rp 18 ribu per bungkus. Pitoyo mengaku cita rasa kopi produksinya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kopi pada umumnya. Namun, proses pengolahan tradisional menjadi ciri khas tersendiri yang membuat produknya diminati pelanggan.

Dia menjelaskan, penyortiran biji kopi masih dilakukan secara manual. Begitu juga proses sangrai atau pemasakan kopi yang tetap menggunakan cara tradisional agar rasa kopi lebih khas dan nikmat.

“Perbedaannya ada pada proses pengolahan. Penyortiran buah kopi dan proses sangrai masih manual supaya rasa kopi tetap tradisional dan lebih enak,” jelasnya.

Untuk pemasaran, Kopi Gurita dipasarkan secara online maupun offline. Selama hampir sembilan tahun menjalankan usaha tersebut, ribuan bungkus kopi telah berhasil terjual ke berbagai daerah.

Pitoyo berharap ke depan usahanya dapat kembali berjalan normal setelah peralatan produksi modern berhasil dimiliki dan pasokan kopi dari kebun sendiri mulai mencukupi kebutuhan produksi. Selain kami juga berharap kepada pemerintah untuk mensupport usaha UMKM ini. 

"Perlu pemerintah mendukung pelaku UMKM di Kabupaten Kaur. Karena tidak semua pelaku UMKM ini memiliki modal besar," ujarnya.*

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan