Baca Koran radarkaur Online - Radar Kaur

Advertisement Google

Potensi Gula Aren Kaur Besar, Terkendala Pengelolaan dan Minim Modal

Kepala Desa Air Batang, Supendi menjelaskan, usaha gula aren di desanya masih belum berkembang ke versi modern, Senin 2 Maret.--

NASAL – Gula aren yang selama ini dikenal sebagai pemanis tradisional kini berkembang menjadi peluang bisnis menjanjikan di era modern.

Produk berbahan baku nira pohon aren tidak lagi dipasarkan secara konvensional di pasar tradisional, tetapi telah merambah toko modern, kafe, hingga platform penjualan daring.

Di tingkat nasional, permintaan gula aren terus meningkat seiring tren gaya hidup sehat dan menjamurnya minuman kekinian berbahan dasar gula alami.

BACA JUGA:Buka Puasa dengan Serabi Kuah Gula Aren jadi Favorit Keluarga, Begini Cara Membuatnya!

BACA JUGA:Terkendala Cuaca, Produksi Gula Aren Macet, Harga Rp 15-20 Ribu per Buah

Banyak pelaku usaha kuliner memilih gula aren karena cita rasanya khas dan dianggap lebih alami dibandingkan gula pasir.

Namun demikian, di Kabupaten Kaur potensi gula aren yang cukup melimpah belum dikembangkan secara maksimal.

Sebagian besar masyarakat masih memproduksi dan memasarkan gula aren secara tradisional, baik dari sisi pengolahan maupun kemasan.

BACA JUGA:Pemkab BS Fasilitasi 200 Pelaku UMKM Gula Aren Terkait Perizinan, Sertifikasi, Standarisasi Sampai Permodalan

BACA JUGA:Gula Aren Baik untuk Kesehatan, Nomor 5 Jarang Diketahui

Produk umumnya dijual dalam bentuk cetakan sederhana tanpa kemasan menarik serta belum dilengkapi label atau merek dagang.

Kepala Desa Air Batang, Supendi menjelaskan, tanaman aren di wilayah Kaur didominasi jenis sedang hingga dalam yang mampu menghasilkan nira cukup tinggi, berkisar antara 8 hingga 22 liter per pohon per hari.

Dari jumlah tersebut, satu pohon aren berpotensi menghasilkan sekitar 4 kilogram gula merah per hari.

“Kalau dikelola serius, satu pohon saja bisa menghasilkan sekitar 4 kilogram gula merah per hari. Harga jualnya juga lumayan, satu lingkaran bisa Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu. Jika dikelola dengan versi modern maka harganya akan lebih tinggi. Artinya peluang ekonominya cukup besar,” ujarnya.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan