Cuaca Ekstrem Masih Intai Kaur, Cek di Sini Penyebab Utamanya
Cuaca Ekstrem intai Kabupaten Kaur, imbas bibit siklon tropis 91W di samudera pasifik. Begini kondisi laut di Dermaga Linau Kecamatan Maje, Selasa 13 Januari 2026. Sumber foto: REGA/RKa--
BINTUHAN – Kondisi cuaca ekstrem masih berpotensi melanda wilayah Kabupaten Kaur dalam beberapa hari ke depan.
Fenomena ini dipengaruhi oleh keberadaan Bibit Siklon Tropis 91W yang terpantau berada di Samudra Pasifik. Bibit siklon tersebut tercatat memiliki kecepatan angin maksimum sekitar 15 knot dengan tekanan udara minimum 1007 hPa, yang berpotensi memengaruhi pola cuaca di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Bengkulu.
Dampak dari sistem cuaca tersebut diprakirakan meluas ke wilayah Bengkulu bagian selatan, termasuk Kabupaten Kaur. Daerah konvergensi atau pertemuan massa udara diprediksi memanjang hingga ke wilayah Bengkulu dan Kaur, sehingga berpotensi meningkatkan intensitas hujan disertai angin kencang. Kondisi ini juga dapat memicu gelombang laut yang lebih tinggi di perairan sekitar Bengkulu.
Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Kabupaten Kaur, Yanto, S.Sos mengatakan, pihaknya bersama Pemda Kaur telah melakukan berbagai langkah kesiapsiagaan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melaksanakan simulasi bencana sebagai bentuk persiapan menghadapi kemungkinan terjadinya bencana alam akibat cuaca ekstrem.
"Selain simulasi, kami bersama stekholder di Kabupaten Kaur juga telah melakukan pemetaan wilayah rawan bencana. Pemetaan ini meliputi daerah yang berpotensi terdampak banjir, tanah longsor, serta kawasan pesisir yang rawan terhadap angin kencang dan gelombang tinggi. Untuk wilayah Kecamatan Maje Desa Linau salah satu daerah rawan bencana. Pemetaan ini bertujuan agar penanganan darurat dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi," ujarnya.
Berdasarkan prakiraan, angin kencang diperkirakan terjadi pada periode 16 hingga 19 Januari 2026. Pada rentang waktu tersebut, wilayah Bengkulu berpotensi mengalami hembusan angin dengan kecepatan maksimum sekitar 15 knot dan tekanan udara minimum 1007 hPa. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti pohon tumbang, banjir, serta gangguan aktivitas pelayaran dan nelayan.
"Kami berharap, dengan kesiapan ini dan peran aktif masyarakat, dampak cuaca ekstrem dapat diminimalisir. Masyarakat diminta tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta mengutamakan keselamatan dalam setiap aktivitas sehari-hari. Untuk masyarakat yang bekerja di laut kami minta untuk melihat kondisi cuaca sebelum berangkat menangkap ikan, ini demi keselamatan bersama," ujarnya.