Bengkulu Darurat BBM, Kendaraan Nakal Bisa Dicabut Barcodenya
Krisis bahan bakar minyak (BBM) di Bengkulu Selatan terus menghantui masyarakat pengguna kendaraan.-Sumber Foto: ROHIDI/RKa-
BENGKULU SELATAN (BS) - Krisis bahan bakar minyak (BBM) di Bengkulu Selatan terus menghantui masyarakat pengguna kendaraan.
Apalagi, dalam beberapa hari terakhir, pemandangan antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) tampak semakin mengular.
Banyak pengendara harus rela menunggu berjam-jam hanya untuk mendapatkan beberapa liter pertalite.
BACA JUGA:Pertamina Pastikan Stok BBM Jenis Pertalite di Bengkulu Aman, Imbau Warga Tak Panic Buying
BACA JUGA:Pertamina Patra Niaga Sumbagsel Pastikan Kualitas BBM Lewat Pemantauan Rutin SPBU
Kondisi ini pun mendapat perhatian langsung dari Bupati BS H. Rifai Tajuddin, S.Sos yang mengaku turut merasakan dampak dari kelangkaan tersebut.
Menurut pantauan di lapangan, antrean panjang terjadi hampir di seluruh SPBU wilayah BS. Dari pagi hingga malam hari, kendaraan, baik roda dua maupun roda empa terlihat berderet di pinggir jalan.
Situasi ini membuat arus lalu lintas tersendat dan menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. Tak sedikit warga yang mengeluh karena aktivitas harian mereka terganggu akibat sulitnya memperoleh bahan bakar.
BACA JUGA:Penimbun BBM Subsidi di Bengkulu Sudah 8 Tahun Beroperasi, Begini Cara Polisi Mengungkapnya!
BACA JUGA:Kejari Bengkulu Terima Berkas Tahap II Kasus BBM Oplosan, Ini Ancaman Hukumannya
Menanggapi hal tersebut, Bupati Rifai Tajuddin menegaskan, fenomena kelangkaan BBM bukan hanya terjadi di BS saja, melainkan merupakan persoalan berskala nasional.
Ia bahkan menuturkan, dirinya pun pernah turun langsung dan ikut mengantre di SPBU untuk merasakan sendiri bagaimana susahnya masyarakat mendapatkan BBM.
“Masalah ini bukan cuma di daerah kita, tapi sudah menyebar ke banyak wilayah. Saya pun ikut antre BBM di SPBU, jadi saya tahu persis betapa sulitnya kondisi sekarang,” ujar Rifai.
Pernyataan Bupati itu mencerminkan empati sekaligus komitmen seorang kepala daerah yang tidak hanya melihat dari jauh, tetapi ikut menyelami kesulitan warganya.