Robert Wolter Monginsidi, Pahlawan Nasional yang Gugur di Usia Muda
Robert Wolter Monginsidi bergelar pahlawan nasional karena kegigihan memperjuangkan kemerdekaan. Sumber foto: koranradarkaur.id--
BENGKULU - Robert Wolter Monginsidi dikenal sebagai salah satu Pahlawan Nasional yang berjuang melawan penjajahan Belanda di Sulawesi Selatan.
Anak ketiga dari pasangan bernama Petrus Monginsidi dan Lina Suawa itu lahir di Malalayang, Manado pada 14 Februari 1925. Dia di lingkungan keluarga dan rekan-rekan akrabnya, biasa dipanggil Bote.
Pemuda yang lahir pada tahun 1925 ini dengan penuh keberanian memimpin perjuangan melawan penjajah. Sehingga akhirnya tertangkap dan dijatuhi hukuman mati oleh Belanda pada 5 September 1949.
Sebelum dieksekusi, Monginsidi masih berusia muda dan belum sempat menikah. Semangat juangnya yang rela mengorbankan masa depan pribadi demi kemerdekaan bangsa menjadikannya teladan bagi generasi penerus.
Kehidupan keluarganya jauh dari kata kaya. Ayah Robert adalah seorang petani kelapa, namun memiliki cita-cita agar anak-anaknya dapat mengenyam pendidikan tinggi.
Robert menempuh pendidikan sekolah dasar di Hollands Inslanche School (HIS). Setelah tamat dari HIS, ia melanjutkan ke MULO, setingkat SMP pada masa Hindia Belanda.
Pada era pendudukan Jepang, kecintaannya mempelajari bahasa Jepang membuatnya diangkat menjadi guru kursus bahasa Jepang ketika usianya masih muda.
Awalnya ia mengajar di Liwutung (Minahasa), kemudian dipindahkan ke Luwuk (Sulawesi Tengah), lalu masuk ke Sekolah Menengah Pertama di Ujung Pandang.
Robert Wolter disebut pernah memiliki kedekatan dengan Emmy Saelan, putri sulung Amin Saelan, salah seorang pendiri Gerakan Pendidikan Indonesia Taman Siswa di Sulawesi Selatan. Namun, hubungan mereka tidak sampai ke jenjang pernikahan karena terhalang cinta beda agama.
Padahal, keduanya telah menjalin kedekatan sejak masa SMP hingga saat mereka sama-sama bernaung di LAPRIS.
Robert Wolter dikenal sebagai pemuda yang sangat mencintai tanah air. Bersama Maulwi Saelan dan kawan-kawan, ia memimpin Barisan Angkatan Muda Pelajar yang berani menghadapi pasukan Belanda.
Bahkan, pada 17 Oktober 1945, di bawah pimpinannya, seluruh kekuatan pemuda pejuang di Ujung Pandang dikonsolidasikan untuk melancarkan serangan umum.
Mereka berhasil merebut lokasi-lokasi strategis, gedung-gedung penting, serta bangunan vital yang sebelumnya dikuasai Belanda.
Aksi mereka juga mencakup pengambilalihan Stasiun Pemancar Radio Makassar, Tangsi Belanda di Mariso, dan berbagai fasilitas lain milik Belanda.