Robert Wolter Monginsidi, Pahlawan Nasional yang Gugur di Usia Muda
Robert Wolter Monginsidi bergelar pahlawan nasional karena kegigihan memperjuangkan kemerdekaan. Sumber foto: koranradarkaur.id--
Wajah Robert yang menyerupai keturunan Indo-Belanda memberinya kesempatan menyusup ke kota Ujung Pandang sendirian dengan menyamar sebagai tentara Belanda.
Di jalan, ia kerap menghentikan jeep tentara Belanda, lalu ikut menumpang sebelum akhirnya menodongkan pistol ke pengemudi untuk merampas senjata sekaligus mobil mereka.
Pada kesempatan lain, ia bahkan nekat memasuki markas Polisi Militer Belanda dan menempelkan plakat berisi ancaman.
Berkali-kali aksinya dilakukan dan selalu berhasil, sehingga menjadikannya buronan utama yang terus diburu oleh tentara Belanda.
Tahun 1942, situasi Perang Dunia Kedua menyebabkan pendidikan Wolter terhenti. Saat pendudukan Jepang, ia menempuh pendidikan di sekolah guru bahasa Jepang di Tomohon.
Setelah menamatkan pendidikannya, ia kembali mengajar bahasa Jepang di Liwutung, Minahasa, lalu dipindahkan ke Luwuk, Sulawesi Tengah pada usia yang masih sangat muda, yaitu 17 tahun.
Berbagai upaya dilakukan Belanda untuk menghentikan langkah Robert Wolter Monginsidi. Hingga akhirnya, pada 5 September 1949, pejuang nasional itu dieksekusi mati di Pacinang, wilayah Talo, Kecamatan Panakukang.
Ia ditembak tanpa penutup mata, sambil menggenggam kitab Injil di tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengepal dengan lantang berteriak, “Merdeka atau Mati”.