Abu Nawas Berulah Bikin Khalifah Tertawa Usai Umumkan Benci Haq dan Suka Fitnah, Kok Bisa Ya?
Abu Nawas dengan kecerdikannya berhasil membuat khalifah tertawa terbahak-bahak. Sebuah kisah lucu penuh makna!-sumber foto: Koranradarkaur.id-
Suatu hari, ia melakukan aksi di tengah keramaian pasar di Baghdad, Irak, dengan berbicara seolah-olah ia bukan seorang yang beriman. "Wahai manusia, ketahuilah! Aku, Abu Nawas, sangat membenci kebenaran dan mencintai fitnah, serta lebih kaya daripada Allah," serunya dengan lantang.
Semua orang tertegun dan tercengang, mengingat Abu Nawas dikenal sebagai Muslim yang taat. Meski sering bercanda, ia tidak pernah melakukannya dengan cara seperti ini.
Akibatnya, ia ditangkap dan dibawa ke hadapan khalifah. "Benarkah engkau mengucapkan kata-kata itu?" tanya khalifah.
"Benar," jawab Abu Nawas.
"Kenapa kau berkata demikian, apakah kau sudah kafir?" tanya khalifah lagi.
"Ah, aku kira khalifah juga seperti aku. Pastinya, khalifah juga membenci kebenaran," jawab Abu Nawas.
"Kau benar-benar gila!" seru khalifah.
"Jangan marah dulu, wahai khalifah, dengarkan penjelasanku," kata Abu Nawas berusaha menenangkan situasi.
"Penjelasan apa yang ingin kau sampaikan? Sebagai seorang Muslim, aku membela kebenaran, bukan membencinya," kata khalifah.
"Tuan, setiap kali orang membacakan talqin, aku selalu mendengar bahwa kematian itu benar dan neraka itu nyata. Siapakah yang tidak membenci kematian dan neraka yang nyata itu? Bukankah khalifah juga membencinya seperti aku?" jelas Abu Nawas.
Khalifah terdiam, merenungkan perkataan Abu Nawas. "Ya, tentu saja. Kematian dan neraka adalah kebenaran. Tapi bagaimana dengan pernyataanmu tentang mencintai fitnah?" tanya khalifah.
"Bukan hanya aku. Khalifah juga menyukai fitnah. Mungkin khalifah lupa bahwa Alquran menyebutkan harta dan anak-anak kita adalah fitnah. Khalifah juga menikmati harta dan anak-anak seperti saya, bukan?" tanya Abu Nawas.
Khalifah mengangguk, menyetujui pernyataan tersebut. "Ya, memang demikian."
"Lalu, mengapa kau bilang lebih kaya daripada Allah yang Mahakaya?" tanya khalifah lagi.
"Anak adalah kekayaan. Aku lebih kaya dari Allah, karena aku memiliki anak, sementara Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan," jawab Abu Nawas.