Ada Bau Mistis Dalam Tradisi Paliare, Tapi Menjadi Sensus Penduduk Cara 'Baghi'
Sesepuh Desa Muara Dua Kecamatan Nasal saat ritual besebut dalam Tradisi Paliare, Kamis 25 Juni 2026.--
Sebab pernah terjadi pada suatu waktu tidak dilakukan Tradisi Paliare oleh warga setempat.
Dampak buruknya “nining” alias harimau berkeliaran di perkampungan. Sehingga warga menyadari ada kesalahan yang telah dilakukan, mereka tidak melakukan amanat leluhurnya.
Kades Muara Dua Ansori mengakui, ada dulu tidak dilakukan Tradisi Paliare selama setahun. Pada massa itu “nining” berkeliaran di permukiman.
Jelas kejadian ini ganjil, atas dasar itulah warga menyadari ada amanat secara turun temurun tidak dilakukan.
Menyadari kesalahan itu, maka warga melakukan tradisi walau terlambat. Sehingga “ninig” ini berhenti berkeliaran di permukiman warga desa mereka.
“Tradisi Paliare bukan hanya kebiasaan biasa. Tapi menyangkut amanat leluhur terhadap warga desa kami. Jika tidak dilakukan, maka akan ada keganjilan datang secara tiba – tiba. Kejadian itu bukan hanya katanya saja, tapi nyata. Karena itulah, tradisi ini akan kami terus lanjutkan dari generasi ke generasi,” paparnya.
Tradisi Paliare Sensus Cara “Baghi”
Perlu juga dipahami, jika dianalisa secara ilmiah. Maka Tradisi Paliare ini juga menjadi alat sensus penduduk cara “baghi” atau cara lama. Sebab, saat tradisi ini dilaksanakan ada kewajiban yang harus dilakukan warga.
Pada tradisi ini, setiap jiwa Desa Muara Dua untuk membuat satu lemang. Dengan jumlah lemang ini, maka diketahui secara jelas jumlah warga setempat secara riil.
Untuk Juni 2026 ini diketahui jumlah warga Desa Muara Dua 739 jiwa (172 KK), sedangkan Dusun Kulik Sialang 54 jiwa dan tamu yang berpartisipasi 169 jiwa (masih ada keturunan warga Desa Muara Dua).
Sehingga total yang menyetorkan lemang di Tradisi Paliare tahun ini (2026) sebanyak 962 jiwa.
“Kalau menganalisa dari sistem yang digunakan satu lemang satu jiwa, memang terkesan edentik seperti sensus. Bisa jadi Tradisi Paliare ini bagian dari untuk mengentahui jumlah warga, baik itu pertambahan maupun pengurangan jiwa setiap tahun.
Bagi kami, apapun tanggapan orang lain tentang Tradisi Paliare. Kami akan terus melaksanakan warisan leluhur di setiap tahunnya,” papar Kades Muara Dua.
Tambah dia, banyak keunikan dalam tradisi ini. Sebab, sebelum proses utama ada tradisi lain yang dilakukan. Semuanya tertata dengan baik, sesuai dengan runutan yang dilakukan sejak dulu.
Semua proses itu dilakukan dengan melibatkan para kaum sepuh dan tetua desa, tidak bisa dilakukan sembarangan.
“Tradisi Paliare adalah bagian dari kegiatan tahunan yang kami banggakan.