Baca Koran radarkaur Online - Radar Kaur

Advertisement Google

Harga Sawit Hancur, Petani Menjerit, DPRD Murka dan Minta Panggil Semua PKS

Dalam beberapa pekan terakhir, harga sawit di tingkat petani mengalami penurunan tajam hingga jauh di bawah harga acuan yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi Bengkulu. Sumber foto : ROHIDI/RKa--

Namun di lapangan, harga TBS yang diterima petani ternyata masih jauh dari harapan. Binagransya mengakui bahwa harga acuan yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Bengkulu hingga pertengahan tahun 2026 belum sepenuhnya dapat diterapkan oleh pihak perusahaan di Bengkulu Selatan.

“Sudah kita panggil alasan harga dan sebagainya telah disampaikan,” ujarnya singkat.

Sementara itu, pihak perusahaan PKS juga memberikan penjelasan terkait penyebab turunnya harga TBS di tingkat petani. Manajer PT SBS, Ahmad H. Simaremare, mengatakan bahwa penurunan harga saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan pemerintah pusat yang berdampak terhadap industri sawit nasional.

“Ya ada dampaknya dari kebijakan Presiden Prabowo Subianto,” ujarnya.

Selain itu, Ahmad mengakui harga crude palm oil (CPO) mengalami penurunan cukup signifikan sehingga berdampak langsung terhadap harga pembelian TBS di tingkat pabrik. Menurutnya, kondisi kali ini termasuk penurunan harga yang cukup besar dibanding biasanya.

“Jadi di SBS sendiri ada penurunan harga Rp 270 rupiah per kilogram. Ini pertama kali penurunan harga yang cukup besar,” pungkasnya.

Di tengah polemik tersebut, harapan petani kini tertuju pada langkah nyata pemerintah daerah untuk memastikan harga sawit lebih adil dan transparan. Mereka berharap ada keberpihakan nyata kepada masyarakat kecil agar sektor perkebunan sawit tetap mampu menjadi sumber penghidupan yang layak bagi ribuan keluarga di Bengkulu Selatan.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan