Suku Tengger Terkenal Unik, Ada Tradisi Sembah Gunung Bromo
Upacara Kasda dengan tradisi sembah Gunung Bromo diyakini dapat memberikan ketentraman. Sumber foto: Koranradarkaur.id--
KORANRADARKAUR.ID – Suku Tengger terkenal unik yang tinggal di dataran tinggi pegunungan Tengger, Bromo dan Semeru di Jawa Timur (Jatim) dengan tradisi sembah Gunung Bromo.
Suku Tengger yang dikenal melakukan penyembahan Gunung Bromo dengan sebutan Wong Tengger, Wong Brama atau Wong Bromo yang hingga kini masih misterius asal usulnya.
Memiliki tradisi sembah Gunung Bromo lantaran menurut sejarahnya bahwa telah melakukan tumbal anaknya sehingga munculnya melakukan penyembahan setiap tanggal 15 bulan Kasada.
BACA JUGA:Perlombaan Karapan Sapi Merupakan Tradisi Suku Madura, Berikut Keunikannya!
Bahkan di pegunungan Tengger terdapat pula tempat suci sejak tahun 851 Saka (929 M) yang dihuni oleh hulun hyang yang menjalani kehidupan sebagai abdi dewata yang berkayikanan agama Hindu-Buddah.
Diketahui, nama "Tengger" diyakini berasal dari Rara Anteng dan Jaka Seger merupakan nenek moyang Tengger. Sedangkan Rara Anteng, putri Raja Brawijaya V dari Majapahit dan Jaka Seger, seorang Brahmana yang bertapa di Tengger.
Sehingga memberikan asal-usul nama dan tradisi spiritual yang khas bagi suku Tengger hingga sekarang dilakukan upacara Kasada sesuai dengan perjanjian yang sudah ditentukan melakukan persembahan di Gunung Bromo.
Dikutip dari laman kumparan.com, tradisi persembahan diyakini akan membuat warga Suku Tengger damai dan nyaman dan selalu hidup dengan rukun, awalnya sebelum persembahan suku ini memberikan tumbal manusia anak yang paling kecil dari 25 bersaudara.
BACA JUGA:Suku Kajang Menolak Teknologi Modern, Hidup di Dalam Hutan, Berikut Ini Penjelasan Lengkapnya!
Tradisi Suku Tengger dikenal dengan Yadnya Kasada dan ada pendapat lain bahwa Suku ini sudah ada sejak zaman yang jauh sebelum keberadaan Majapahit.
Suku yang sudah dikenal merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia, khususnya di Pulau Jawa yang mendiami sekitaran pegunungan Tengger, Bromo dan Semeru.
Dengan melakukan tradisi unik yang diwariskan oleh nenek moyangnya sejak zaman dahulu melakukan persembahan di Gunung Bromo yang diyakini hidup lebih damai.
Suku ini melakukan kegiatan upacara Kasada atau Yadnya Kasada, Hari Raya Karo atau Yadnya Karo dan tradisi unan-unan. Suku ini mendiami wilayah sekitar dataran tinggi Bromo-Tengger-Semeru, Jawa Timur dikenal Wong Brama atau Wong Bromo.