Kisah Baharuddin Lopa, Jaksa Agung Paling Jujur dan Berani, Kepercayaan Gus Dur, Tak Gentar Meski Sering Dianc
Kisah Baharuddin Lopa menempati tempat istimewa sebagai Jaksa Agung paling jujur dan pemberani yang pernah dimiliki bangsa ini. Sumber foto : koranradarkaur.id--
Ia tinggal di sebuah pondok bambu sederhana, rumah yang jauh dari kemewahan pejabat pada umumnya. Rumah itu tidak besar, tapi cukup bagi keluarganya. Ia tidak pernah merasa perlu menunjukkan status atau kekuasaan melalui gaya hidup.
Kendaraan pribadinya hanyalah sebuah mobil tua yang ia beli secara mencicil, bukan kendaraan dinas mewah dengan pengawalan ketat.
Ia lebih sering datang sendiri ke kantor, bahkan menolak fasilitas berlebihan.
Kepada anak-anaknya, ia selalu menanamkan prinsip bahwa hidup harus lurus, jujur, dan tidak menggantungkan diri pada jabatan
. Semua yang ia lakukan menjadi bukti bahwa jabatan bukanlah tempat untuk memperkaya diri, melainkan ladang pengabdian.
Presiden Gus Dur memilih Lopa menjadi Jaksa Agung karena mengetahui rekam jejaknya yang bersih dan keberaniannya yang tak terbantahkan.
BACA JUGA:Berikut 5 Lokasi yang Dapat Mengingat Kembali Sejarah Kemerdekaan Indonesia
Dalam berbagai kesempatan, Gus Dur menyebut Lopa sebagai orang lurus yang tidak bisa dibelokkan.
Pemilihan Lopa bukanlah langkah populis, tetapi komitmen politik untuk memberantas korupsi tanpa pandang bulu. Dan dalam waktu singkat, Lopa membuktikan bahwa ia adalah orang yang tepat untuk misi berat tersebut.
Sayangnya, masa jabatannya sebagai Jaksa Agung sangat singkat. Baharuddin Lopa wafat secara mendadak pada 3 Juli 2001 dalam usia 61 tahun saat sedang menjalankan tugas di Riyadh, Arab Saudi.
Kepergiannya membawa duka mendalam bagi bangsa yang tengah berharap pada sosok jujur dan tegas dalam memerangi kejahatan sistemik.
Baharuddin Lopa bukan sekadar seorang jaksa. Ia adalah simbol perjuangan hukum yang bersih dan berani.
Ia menunjukkan bahwa jabatan tinggi tak harus diiringi dengan kekayaan, bahwa keberanian menegakkan hukum bisa datang dari kesederhanaan.
Kisahnya adalah pengingat bahwa kebenaran tidak memerlukan pelindung, dan bahwa kejujuran, meski sering sendiri, akan selalu dikenang.
Saat bangsa ini mencari panutan dalam hukum dan moral, nama Baharuddin Lopa akan selalu kembali disebut bukan karena jabatannya, tapi karena jiwanya.