Baca Koran radarkaur Online - Radar Kaur

Warisan Budaya Unik di Jateng,Menyambut Bulan Suci Ramadan Ada Dugderan Hingga Dandangan

Kemeriahan festival Dugderan di Semarang dengan prosesi Warak Ngendog-sumber foto: Koranradarkaur.id-

Tradisi yang satu ini merupakan ritual animisme untuk menghormati leluhur dan mengalami akulturasi dengan nilai-nilai Islam setelah agama Islam masuk ke tanah Jawa melalui Wali Songo.

Perlu diketahui, Nyadran dikenal dengan nama yang berbeda-beda seperti di Banyumas tetap disebut nyadran dan sementara di Temanggung dan Boyolali dikenal sebagai sadranan. 

Sementara untuk waktu pelaksanaan bervariasi dan umumnya dilakukan pada bulan Ruwah (Sya'ban), sekitar 15-23 hari sebelum Ramadan.

Tradisi yang kental dengan makna saling kerja sama ini dimulai dengan ziarah dan membersihkan makam leluhur serta kerja bakti membersihkan lingkungan desa. 

-Dugderan

Tradisi yang satu ini merupakan khas masyarakat Semarang namanya berasal dari bunyi "dug" (bedug) dan "der" (meriam). 

Tradisi yang sudah sejak laman ini diperkenalkan pada masa pemerintahan Bupati RMTA Purbaningrat pada tahun 1881 silam.

Kegiatan festival ini biasanya diselenggarakan seminggu sebelum Ramadan tiba dan merupakan acara yang sangat meriah dalam menyambut bulan suci Ramadan.

Kegiatan di sekitar Masjid Agung Semarang dimulai dengan prosesi Warak Ngendog merupakan  sebuah karnaval yang menampilkan replika hewan mitologis dan ini simbol akulturasi budaya Jawa, Arab, dan Tionghoa yang masih tetap dilestarikan. 

-Dandangan

Tradisi yang satu ini berkembang di pesisir utara Jawa, khususnya di Kudus dan sekitarnya berasal dari bunyi bedug "dang-dang-dang" yang diperdengarkan dari Menara Kudus dengan tujuan mengumumkan dimulainya bulan suci Ramadan.  *

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan