"Kurma jelek itu dibawa ke sini? Jumlahnya juga cuma satu," ejek salah satu temannya.
Mendengar celaan itu, Ahmad merasa minder dan berbalik untuk pulang. Namun, Abu Nawas keluar dari rumahnya dan memanggil, "Hai Ahmad, jangan pulang dulu. Ayo ke sini."
BACA JUGA:Pakai Cara Cerdas, Abu Nawas Lolos dari Hukuman dimasak Jadi Bubur!
Ahmad pun bergabung dengan murid-murid lainnya. "Apakah kalian sudah membawa kurma yang paling manis?" tanya Abu Nawas.
"Sudah, Tuan Guru," jawab mereka penuh semangat.
Abu Nawas meminta mereka menunjukkan kurma yang mereka bawa. Satu per satu, murid-murid meletakkan kurma di hadapannya, termasuk Ahmad yang hanya membawa satu butir.
Setelah semuanya terkumpul, Abu Nawas berkata, "Sepertinya aku sudah menemukan pemenangnya."
"Siapa pemenangnya, Tuan Guru?" tanya mereka dengan berdebar.
"Pemenangnya adalah Ahmad," jawab Abu Nawas.
Keputusan ini membuat murid-murid lain protes. "Tuan Guru tidak adil, bagaimana mungkin kurma jelek bisa menang?" keluh mereka.
Dengan senyuman, Abu Nawas menjelaskan, "Ketika kalian membawa kurma, saya menguji kalian dengan menyamar sebagai pengemis, tetapi tidak ada yang mau memberikannya, kecuali Ahmad."
"Memang kurma yang dibawa Ahmad tidak sebaik milik kalian, tetapi ingatlah, buah yang paling manis adalah yang diberikan kepada orang yang kelaparan."
"Sejatinya, buah yang paling manis adalah kebajikan. Oleh karena itu, meskipun kurma Ahmad biasa saja, kebajikannya membuatnya menjadi yang paling manis di antara kalian," terang Abu Nawas.
Setelah mendengar penjelasan Abu Nawas, murid-muridnya menyadari kesalahan mereka dan mulai memahami mengapa guru mereka memberikan perhatian khusus kepada Ahmad, karena ia memiliki akhlak yang mulia.