KORANRADARKAUR.ID - Berdasarkan data dari efani.com, terdapat tujuh merek ponsel yang paling sering menjadi sasaran peretasan, yakni Apple, Samsung, Google Pixel, Xiaomi, Huawei, Oppo, dan Vivo.
Meski dikenal memiliki sistem keamanan tinggi, kenyataannya tidak ada ponsel yang benar-benar kebal dari ancaman siber.
Peretasan bisa terjadi karena kombinasi faktor: kelemahan sistem operasi, kelengahan pengguna, serta kecanggihan teknik serangan yang terus berkembang.
Apple menempati posisi pertama sebagai ponsel yang paling mudah diretas. Hal ini bukan berarti iPhone memiliki sistem keamanan yang buruk, melainkan karena popularitasnya yang sangat tinggi menjadikannya target utama.
Banyak peretas berupaya menemukan celah dalam iOS untuk mencuri data pengguna, terutama melalui tautan phishing, pesan berbahaya, atau aplikasi palsu yang meniru tampilan resmi App Store.
Selain itu, pengguna iPhone yang sering tersambung ke jaringan Wi-Fi publik tanpa perlindungan tambahan juga berisiko tinggi menjadi korban.
Di posisi kedua ada Samsung, dengan seri Galaxy yang digunakan oleh jutaan orang di seluruh dunia.
Ponsel berbasis Android ini dikenal fleksibel, namun sifat terbuka Android justru membuatnya lebih rentan dibandingkan iOS.
Banyak kasus peretasan Samsung terjadi akibat pengguna mengunduh aplikasi di luar Play Store atau tidak melakukan pembaruan keamanan secara rutin.
Celah ini sering dimanfaatkan peretas untuk menyisipkan malware yang mencuri informasi pribadi, mulai dari sandi, foto, hingga data keuangan.
Google Pixel berada di posisi ketiga. Meskipun dikembangkan langsung oleh Google dengan sistem keamanan Android versi terbaru, perangkat ini tetap tidak sepenuhnya aman.
Peretas kerap mengeksploitasi bug yang ditemukan pada versi Android baru sebelum diperbaiki oleh pembaruan sistem.
Selain itu, banyak pengguna yang lengah terhadap serangan phishing yang meniru tampilan akun Google, sehingga data mereka dapat dicuri tanpa disadari.
Xiaomi menempati posisi keempat dalam daftar. Sebagai ponsel dengan pengguna yang sangat besar, terutama di Asia, Xiaomi sering menjadi sasaran serangan massal.
Banyak pengguna yang tergiur menggunakan aplikasi modifikasi atau tidak resmi yang ternyata berisi malware.