Baca Koran radarkaur Online - Radar Kaur

Advertisement Google

Produksi Sawit Tembus 271 Ribu Ton, Harga TBS Masih Tak Bersahabat,Simak Masukan Anggota DPRD

Para petani sawit BS ternyata masih menghadapi persoalan serius yang hingga kini belum menemukan solusi pasti, salah satunya sering terjadi harga TBS masih tak bersahabat. Sumber foto : ROHIDI/RKa--

BENGKULU SELATAN (BS) - Kabupaten BS dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kelapa sawit terbesar di Provinsi Bengkulu. Hamparan perkebunan sawit membentang luas di berbagai kecamatan dan menjadi sumber penghidupan utama bagi ribuan masyarakat. Namun di balik besarnya produksi sawit yang mencapai ratusan ribu ton setiap tahun, para petani ternyata masih menghadapi persoalan serius yang hingga kini belum menemukan solusi pasti, salah satunya sering terjadi harga TBS masih tak bersahabat.

Besarnya potensi sawit di BS ternyata belum diimbangi dengan keberadaan pabrik pengolahan yang memadai. Saat ini, ribuan petani sawit di daerah tersebut hanya bergantung pada dua Pabrik Kelapa Sawit (PKS) untuk menjual hasil panen mereka, yakni PT Bengkulu Selatan Lestari (BSL) di wilayah Kedurang dan PT Sinar Bengkulu Selatan (SBS) di Kecamatan Pino Raya.

Kondisi itu membuat persaingan harga pembelian Tandan Buah Segar (TBS) dinilai belum sehat. Petani tidak memiliki banyak pilihan saat hendak menjual hasil panennya. Ketika harga sawit turun, mereka hanya bisa pasrah menerima harga yang ditetapkan pabrik.

Di sisi lain, biaya produksi terus meningkat, terutama harga pupuk yang semakin mahal. Situasi tersebut membuat banyak petani berada dalam tekanan ekonomi, terlebih ketika harga TBS anjlok hingga menyentuh angka rendah.

BACA JUGA:Harga TBS Naik Lagi, Penjualan Mulai Stabil di PT RCI

BACA JUGA:Hingga Akhir Tahun, Harga TBS Sawit Bertahan Rp 2.730 per Kg

Bagi sebagian besar masyarakat di Bengkulu Selatan, sawit bukan sekadar komoditas perkebunan. Sawit telah menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Saat harga TBS berada di level tinggi, roda perekonomian desa ikut bergerak. Warung ramai, pembayaran cicilan lancar, dan aktivitas masyarakat meningkat. Namun ketika harga sawit merosot, dampaknya langsung terasa hingga ke dapur rumah tangga petani.

Persoalan inilah yang kemudian mendapat perhatian serius dari Komisi II DPRD BS. Dewan meminta pemerintah daerah segera melakukan kajian terkait kemungkinan penambahan Pabrik Kelapa Sawit baru di Bengkulu Selatan agar tercipta persaingan harga yang lebih sehat.

Ketua Komisi II DPRD BS Nissan Deni Purnama, S.IP menilai, ketergantungan terhadap dua PKS membuat posisi petani menjadi lemah. Menurutnya, kehadiran pabrik baru bisa menjadi solusi untuk menciptakan kompetisi dalam penentuan harga TBS.

“Persaingan di sini belum ada karena cuma dua pabrik. Kalau memungkinkan buka pabrik lagi supaya kompetitif. Biar masyarakat ada pilihan,” tegas Nissan Deni.

Ia mengungkapkan, pihak DPRD telah melakukan pertemuan dengan manajemen PT BSL maupun PT SBS guna membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan pembelian TBS dari masyarakat. Dari hasil pembahasan tersebut, DPRD menilai Bengkulu Selatan memang terlalu bergantung pada dua perusahaan tersebut.

“Kalau bisa ditambah, ditambah supaya ada persaingan yang sehat dan ada kompetitor,” imbuhnya.

Menurut DPRD, pemerintah daerah perlu segera menghitung kapasitas produksi sawit masyarakat dibandingkan dengan kapasitas giling dua PKS yang ada saat ini. Jika jumlah produksi TBS terus meningkat sementara kapasitas pabrik terbatas, maka peluang untuk membuka investasi PKS baru dinilai sangat terbuka.

Data dari Dinas Pertanian Bengkulu Selatan menunjukkan luas total perkebunan sawit di daerah tersebut mencapai 28.891 hektare. Dari jumlah itu, sekitar 26.590 hektare merupakan tanaman menghasilkan, sementara sisanya sekitar 2.300 hektare masih belum memasuki masa panen.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan