40 Alat Pertanian Diusulkan, Petani Bengkulu Selatan Diharapkan Lebih Efisien dan Sejahtera
Bupati Bengkulu H Rifai Tajuddin, S.Sos sampaikan ada 40 unit alat pertanian diusulkan ke Kementerian Pertanian RI yang dinilai sangat dibutuhkan oleh petani di lapangan. Sumber foto : ROHIDI/RKa--
BENGKULU SELATAN (BS) - Pemkab BS kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong kemajuan sektor pertanian sebagai tulang punggung perekonomian daerah.
Melalui upaya berkelanjutan, pemerintah daerah kembali mengajukan bantuan alat dan mesin pertanian (Alsintan) ke Kementerian Pertanian RI.
Kali ini, usulan yang diajukan terbilang cukup besar, sebanyak 40 unit alat pertanian diusulkan yang dinilai sangat dibutuhkan oleh petani di lapangan.
Usulan bantuan tersebut terdiri dari 20 unit mesin combine harvester dan 20 unit mesin jonder. Dua jenis Alsintan ini diprioritaskan karena perannya yang sangat strategis dalam mendukung proses pertanian, mulai dari pengolahan lahan hingga panen. Dengan luas lahan pertanian yang tersebar di berbagai kecamatan serta tingginya aktivitas bercocok tanam masyarakat BS, keberadaan alat modern dinilai menjadi kebutuhan mendesak.
Bupati BS H. Rifai Tajuddin, S.Sos menyampaikan, pengajuan bantuan Alsintan ini bukan sekadar permintaan rutin, melainkan telah melalui proses pemetaan kebutuhan petani di lapangan. Menurutnya, banyak petani yang masih mengandalkan cara-cara konvensional, sehingga proses pengolahan lahan dan panen membutuhkan waktu lama serta biaya yang relatif tinggi.
“Bantuan alat pertanian ini diusulkan berdasarkan kebutuhan nyata petani. Dengan adanya combine harvester dan jonder, proses pengolahan lahan dan panen bisa menjadi lebih cepat, efisien, dan mengurangi beban kerja petani,” ujar Rifai.
Ia menjelaskan, combine harvester memiliki peran penting dalam proses panen padi karena mampu memotong, merontokkan, hingga membersihkan gabah dalam satu kali kerja. Sementara itu, mesin jonder sangat membantu dalam pengolahan lahan, terutama pada tahap awal sebelum masa tanam. Kehadiran dua jenis alat ini diyakini dapat menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan hasil panen petani.
Lebih lanjut, Rifai menegaskan, Kabupaten Bengkulu Selatan memiliki potensi besar di sektor pertanian, baik dari segi luas lahan, kesuburan tanah, maupun jumlah petani yang menggantungkan hidupnya dari sektor ini. Oleh karena itu, ia menilai sudah sepantasnya daerah mendapatkan dukungan lebih besar dari pemerintah pusat, khususnya dalam bentuk modernisasi alat pertanian.
Terkait pengelolaan Alsintan yang diusulkan, Rifai menekankan bahwa pendistribusian alat pertanian nantinya akan dikelola melalui kelompok tani, namun kepemilikannya tidak bersifat individual atau eksklusif. Skema ini diterapkan agar seluruh petani di wilayah BS dapat memanfaatkan alat tersebut secara bersama-sama.
“Kelompok tani hanya berperan sebagai pengelola, bukan pemilik. Prinsipnya, alat ini milik bersama dan bisa digunakan oleh semua petani. Dengan begitu, alat tetap terawat dan manfaatnya bisa dirasakan secara merata,” jelasnya.
Pemkab BS juga menaruh perhatian khusus pada tata kelola alat pertanian agar tidak menimbulkan persoalan sosial di tengah masyarakat. Selama ini, tidak jarang Alsintan yang sudah ada justru dikuasai oleh pihak tertentu, sehingga menimbulkan kecemburuan sosial dan menghambat pemerataan manfaat.
Untuk itu, pemerintah daerah melakukan penataan ulang terhadap alat pertanian yang telah tersedia, termasuk pengawasan terhadap sistem peminjaman dan perawatan. Dengan pengelolaan yang transparan dan berbasis kelompok, diharapkan tidak ada lagi alat yang hanya dinikmati segelintir orang.
Usulan bantuan 40 unit Alsintan tersebut telah resmi disampaikan ke Kementerian Pertanian. Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan berharap agar pengajuan tersebut dapat segera direalisasikan, sehingga petani tidak perlu menunggu terlalu lama untuk merasakan dampak positifnya.
Rifai menambahkan, peningkatan produktivitas pertanian bukan hanya soal hasil panen yang melimpah, tetapi juga berkaitan langsung dengan kesejahteraan petani. Dengan biaya produksi yang lebih rendah dan proses kerja yang lebih efisien, pendapatan petani diharapkan meningkat dan ketahanan pangan daerah semakin kuat.