Bengkulu Selatan Bidik Panen Padi Tiga Kali Setahun, Lahan 7.630 Hektare Dimaksimalkan
Lahan 7.630 hektare dimaksimalkan, hingga peningkatan frekuensi musim tanam padi dari dua kali menjadi tiga kali dalam satu tahun. Sumber foto : ROHIDI/RKa--
BENGKULU SELATAN (BS) - Pemkab BS terus mematangkan strategi untuk meningkatkan kesejahteraan petani padi sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. Salah satu langkah yang tengah didorong secara serius adalah lahan 7.630 hektare dimaksimalkan, hingga peningkatan frekuensi musim tanam padi dari dua kali menjadi tiga kali dalam satu tahun. Kebijakan ini dinilai mampu mendongkrak produksi gabah secara signifikan apabila didukung dengan program pemerintah yang tepat dan berkelanjutan.
Kadis Pertanian Binagransyah, SP, MM menjelaskan, selama ini mayoritas petani padi di wilayah BS masih menerapkan pola tanam dua kali setahun. Pola tersebut dianggap belum mampu memaksimalkan potensi lahan persawahan yang tersedia, padahal luas lahan padi di Bengkulu Selatan mencapai sekitar 7.630,30 hektare.
“Kalau kita hitung secara sederhana saja, dengan luasan lahan yang kita miliki, hasil panen antara dua kali dan tiga kali musim tanam dalam setahun tentu akan jauh berbeda. Ini sangat berpengaruh terhadap ketersediaan pangan dan juga pendapatan petani,” ujar Binagransyah.
Menurutnya, dorongan untuk melakukan tiga kali musim tanam tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada petani. Pemerintah daerah, kata dia, harus hadir dengan dukungan konkret agar petani merasa aman dan mampu menjalankan pola tanam tersebut tanpa khawatir mengalami kerugian.
BACA JUGA:Soal Krisis Air di Lahan Persawahan, Bupati Bengkulu Selatan Cek Lokasi
BACA JUGA:Bendungan Jebol, 200 Hektare Lahan Persawahan Warga di Kecamatan Pino Terancam Kekeringan
Sebagai bentuk keterlibatan pemerintah, Dinas Pertanian BS memastikan pemenuhan berbagai kebutuhan dasar petani. Mulai dari ketersediaan air melalui sistem irigasi, penyediaan pupuk, hingga pengendalian hama yang selama ini menjadi momok bagi petani dan berpotensi menyebabkan gagal panen.
Binagransyah menegaskan bahwa program ini sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang saat ini menempatkan ketahanan pangan sebagai salah satu prioritas utama pembangunan nasional. Dengan adanya instruksi tersebut, peluang daerah untuk memperkuat sektor pertanian semakin terbuka lebar.
“Sekarang fokus pemerintah pusat sangat jelas, yaitu ketahanan pangan. Ini peluang besar bagi daerah untuk meningkatkan produksi, asalkan kita serius dan terencana,” katanya.
Untuk mendukung program tanam tiga kali setahun, pemerintah daerah juga akan mengoptimalkan peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Para PPL akan ditugaskan untuk memantau perkembangan tanaman padi sejak masa tanam hingga panen, sekaligus menjadi penghubung antara petani dan pemerintah jika muncul kendala di lapangan.
Di sisi infrastruktur, Pemerintah Kabupaten BS saat ini terus membangun jaringan irigasi baru serta melakukan perbaikan terhadap saluran irigasi yang sudah ada. Ketersediaan air menjadi faktor kunci agar petani dapat menjalankan musim tanam tambahan tanpa terganggu oleh kekeringan.
Tak hanya itu, pemerintah juga telah memberikan bantuan bibit padi unggul kepada petani. Binagransyah mengungkapkan bahwa selama ini rata-rata hasil panen petani berkisar sekitar 6 ton per hektare. Namun, melalui percontohan yang dilakukan pemerintah dengan penggunaan bibit berkualitas, hasil panen terbukti meningkat hingga mencapai 8 sampai 9 ton per hektare.
“Hasil percontohan ini sudah kita lihat sendiri. Artinya, kalau bibitnya bagus dan didukung dengan pola tanam serta perawatan yang tepat, produksi petani bisa meningkat cukup signifikan,” jelasnya.
Untuk meminimalkan risiko serangan hama, pemerintah daerah juga akan menerapkan kebijakan penyeragaman musim tanam. Dengan pola tanam yang serentak, pengendalian hama dinilai akan lebih efektif dan terkoordinasi.