Relima Perpustakaan Nasional Luncurkan Program Gerakan Literasi Sekolah di Kabupaten Kaur
Tim Relima Perpustakaan Nasional saat kunjungan pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah di SDN 117 Kaur Desa Parda Suka-Sumber Foto: REGA/RKa-
MAJE – Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mulai menyalurkan Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di Kabupaten Kaur.
Program yang selama ini dikenal melalui kegiatan di desa-desa kini diperluas hingga jenjang pendidikan dasar. Ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemampuan membaca dan literasi anak sejak dini.
Pada Jumat, 28 November 2025, Tim Relima Perpustakaan Nasional mengunjungi SDN 117 Kaur Desa Parda Suka Kecamatan Maje, sebagai tahap awal pelaksanaan GLS di sekolah-sekolah.
BACA JUGA:Relima Data Bakal Sediakan Pojok Baca atau Perpustakaan Desa
BACA JUGA:Pemenang Lomba Bertutur Perpusipda Diminta Serahkan Rekening, Cek Kegunaannya di Sini!
Kedatangan tim ke sekolah tersebut bertujuan untuk melihat langsung dan memastikan kemampuan literasi murid, termasuk membaca, menulis, dan memahami bacaan, sehingga program yang dijalankan dapat lebih tepat sasaran.
Selain menilai kemampuan murid, kunjungan ini juga menjadi sarana edukasi bagi guru dan tenaga pendidik agar dapat mendukung program literasi secara berkelanjutan di lingkungan sekolah.
Yunianti, C.HP, perwakilan Relima Kabupaten Kaur menjelaskan, kunjungan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah melalui Perpustakaan Nasional untuk menumbuhkan budaya literasi sejak usia dini.
BACA JUGA:Dinas Perpustakaan Kaur Dorong Sekolah Gelar Kegiatan Belajar di Perpusda, untuk Tingkatkan Literasi
BACA JUGA:Edukasi dan Tingkatkan Minat Baca, SDIT Kunjungi Disperpusip Kaur
Kegiatan GLS di sekolah ini untuk memastikan anak-anak terbiasa membaca dan mengapresiasi literasi sejak jenjang dasar.
"Setelah tahap SD, kami akan melanjutkan kegiatan ke SMP dan SMA untuk memastikan keberlanjutan literasi di setiap jenjang pendidikan,” ujarnya.
Program GLS tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca, tetapi juga melatih anak-anak memahami isi bacaan, mengembangkan imajinasi, dan menumbuhkan minat membaca buku di luar kurikulum.
Dengan begitu, diharapkan budaya membaca tidak hanya menjadi kewajiban sekolah, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari murid.