Nasib Nelayan di Ujung Tanduk, DPRD Minta Penataan Muara Air Manna Jadi Program Utama Daerah
Ancaman pendangkalan dan abrasi sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa penanganan permanen membuat nasib nelayan di ujung tanduk.-Sumber Foto: ROHIDI/RKa-
Para nelayan sering kali terjebak saat keluar masuk muara, karena perubahan arus dan pergeseran pasir terjadi secara cepat dan tidak terduga.
“Selama ini yang dilakukan hanya pengerukan manual tanpa ada bangunan pengaman abrasi. Cara seperti itu tidak bisa lagi dipertahankan. Harus ada penahan alur permanen untuk mengendalikan abrasi dan mencegah penyempitan muara,” ujar Dodi.
Ia menilai kondisi muara saat ini sudah masuk tahap darurat dan tidak bisa lagi ditunda. Pembangunan struktur penahan abrasi dan pembukaan alur secara permanen harus menjadi prioritas utama. Menurutnya, masalah ini bukan hanya soal aktivitas ekonomi, tetapi menyangkut keselamatan masyarakat pesisir.
“Alur muara adalah nadi kehidupan nelayan. Kesalahan kecil atau sedikit perubahan arus saja bisa menyebabkan kecelakaan. Pemerintah punya tanggung jawab moral dan konstitusional untuk memastikan masyarakat bisa bekerja dengan aman,” tegasnya.
Dodi menambahkan bahwa aspirasi masyarakat harus menjadi dasar dalam menyusun anggaran. Karena itu, ia meminta Pemkab Bengkulu Selatan untuk benar-benar mendengar suara nelayan dan tidak lagi menunda pembangunan infrastruktur vital di muara.
“APBD harus diarahkan pada penataan muara dan pembangunan penahan abrasi secara permanen, agar nelayan kita terlindungi dan bisa bekerja tanpa rasa takut,” pungkasnya.
Kini, harapan para nelayan bergantung pada keputusan pemerintah daerah. Mereka menunggu apakah kebijakan anggaran tahun depan akan memberikan perlindungan nyata, atau justru membuat mereka kembali menghadapi ancaman abrasi dan pendangkalan yang semakin mendekati pemukiman.*